A. Pendidikan
Sebagai Investasi
Pendidikan
merupakan barang investasi (invesment goods) yang berarti sejumlah pengeluaran
untuk mendukung pendidikan yang dilakukan orang tua, masyarakat dan pemerintah
dalam jangka pendek untuk mendapatkan manfaat dalam jangka panjang. Keluarga,
masyarakat dan pemerintah rela melakukan pengorbanan untuk kepentingan
pendidikan demi manfaat dimasa depan.
Ada 3 alasan penting pendidikan sebagai investasi :
1. Sebagai
alat perkembangan ekonomi
a. Semakin berpendidikan seseorang semakin
baik pendapatan/penghasilannya.
b. Investigasi mengenai tingkat pendidikan
di amerika serikat (1992) membuktikan bahwa
1)seseorang doktor berpenghasilan rata-rata per-tahun sebesar 55 juta
dollar, 2)master 40 juta dolar & 3) sarjana (s1) 33 juta dolar, sedangkan
mereka yang berpendidikan lanjutan berpenghasilan rata-rata 19 juta dolar.
c. Dalam waktu yang bersamaan di indonesia
diketahui mereka yang berpendidikan doktor berpenghasilan rata-rata per-bulan Rp.3,5 juta, Master Rp. 3 juta, Sarjana Rp.2,5
juta, Lulusan SLTA Rp.1,9, Tamatan SD Rp.1,1.
2. Sebagai
nilai balik (rate of return)
a.
Nilai balik pendidikan : perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk
membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang diperoleh setelah seseorang
lulus dan memasuki dunia kerja.
b.
Di negara berkembang nilai balik investasi pendidikan lebih tinggi (20%)
dibandingkan investasi modal fisik (15. Sedangkan di negara-negara maju nilai
balik investasi pendidikan lebih rendah dibanding investasi modal fisik yaitu 9
% dibanding 13 %.
c. Alasannya : karena tenaga kerja terdidik
yang terampil & ahli di negara berkembang relatif sedikit jumlahnya
sehingga tingkat upah lebih tinggi.
d. Memperhatikan kondisi
di indonesia, prof. Kinosita dari jepang menyarankan bahwa yang sangat mendesak
dikembangkan di indonesia adalah pendidikan dasar. Kinosita menyebutkan bahwa
proses pendidikan di indonesia bertumpu pada 4 pilar utama yaitu : 1)learning
to know, 2) learning to do, 3) learning to be, 4) learning to live together, yang dapat dicapai
melalui delapan kompetensi dasar yaitu membaca, menulis, mendengar, menutur,
menghitung, meneliti, menghafal dan menghayal.
3. Memiliki
multi fungsi
a. Fungsi
sosial: memberi
kontribusi terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai
tingkat sosial yang berbeda.
b. Fungsi politis: membantu
mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih
warganegara yang benar dan bertanggung jawab.
c. Fungsi
budaya: Membantu mengembangkan kreativitas, kesadaran
estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan
keyakinan sosial yang baik.
d. Fungsi kependidikan: Membantu mengembangkan kesadaran belajar
sepanjang hayat (life long learning) dan senang belajar, selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu
pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus
belajar.
B. Konsep Nilai Ekonomi Pendidikan
Menurut
Ari A. Pradana (2005) mengutip pendapat Profesor Joseph Stiglitz, di Jakarta “Sediakan pendidikan sebisa mungkin dan bisa
diraih dengan mudah oleh semua warga”, kata peraih Nobel Ekonomi, seperti
dimuat pada harian kompas (15/12/2004).
Pertanyaan ini dilontarkan oleh Stiglitz ketika menanggapi pertanyaan
soal kebijakan ekonomi seperti apa yang diperlukan Indonesia. Ia juga
mengomentari bahwa soal pendidikan ini adalah salah satu blunder kebijakan neoliberal yang
dianut indonesia.
Peranan
pendidikan bahasa teknisnya modal manusia (human
capital) dalam pertumbuhan ekonomi memang belum terlalu lama masuk dalam
literatur teori pertumbuhan ekonomi memang belum terlalu lama masuk dalam
literatur teori pertumbuhan ekonomi. Dikemukakan oleh Ari A. Pradana menegaskan
pendapat dari Lucas (1990) serta Mankiw,Romer, dan Weil (1992) yang merevisi
teori pertumbuhan neoklasik dari Solow (1959) yang legendaris itu.
Dalam studi-studinya, mereka menunjukan bahwa teori Solow yang standar
hanya mampu menjelaskan bagaimana perekonomian sebuah negara bisa tumbuh,
tetapi tidak cukup mampu menjelaskan kesenjangan tingkat pendapat perkapita
antara negara di didunia. Baru ketika variabel modal manusia diikut sertakan
dalam perhitungan, sebagai dari kesenjangan itu bisa dijelaskan.
Namun,
sejumlah misteri masih tersisa. Tingkat pendidikan di negara-negara berkembang
sebenarnya mengalami peningkatan drastis pada tahun
1960-1990.
Easterly (2001) menunjukan bahwa median angka partisipasi sekolah dasar
meningkat dari 88 persen menjadi 90 persen, sementara untuk sekolah menengah
dari 13 persen menjadi 45 persen. Selanjutnya, jika ditahun 1960 hanya 28
persen negara di dunia yang angka partisipasi sekolah dasarnya mencapai 100
persen, di tahun 1990 menjadi lebih sepruhnya.
Nyatanya, kenaikan dari tingkat
pendidikan di negara berkembang juga tidak menjelaskan kinerja pertumbuhan
ekonomi. Ambil contoh Afrika, antara tahun 1960 hingga tahun 1985 pertumbuhan
tingkat sekolah di benua itu tercatat lebih dari 4 persen per tahun.
Nyatanya,ekonomi negara-negara di Afrika hanya tumbuh 0,5 persen per tahun.
Itupun karena ada “keajaiban ekonomi” di Afrika, yaitu Botswana dan Lesotho.
Kebanyakan negara Afrika lain mencatat pertumbuhan negatif dalam periode
tersebut. Kasus ekstrim dialami Senegal yang mmengalami pertumbuhan angka
sekolah hampir 8 persen pertahun, tetapi memiliki pertumbuhan ekonomi yang
negatif.
C. Pendidikan
Sebagai Konsumsi Dan Investasi Ekonomi
Mikro
ekonomi pendidikan mempelajari unsur-unsur permintaan, penawaran, dan harga
dari produk jasa pendidikan. Pada unsur permintaan dipelajari tentang bagaimana
calon siswa/mahasiswa memaksimumkan pendapatan neto seumur hidup yang
diharapkan. Sedang pada pihak produsen, yaitu satuan pendidikan dipelajari
tentang bagaimana mengkombinasikan input agar dapat memperoleh biaya total terendah,
oleh karena itu maka pembahasan juga akan menyangkut pembahasan tentang
pendidikan sebagai industri.
Pendidikan diselenggarakan oleh
lembaga-lembaga pendidikan, di mana lembaga pendidikan dapat mendirikan sebuah
atau beberapa satuan pendidikan, maka ini berarti bahwa lembaga pendidikan
mempunyai kedudukan sebagai badan usaha, dan satuan pendidikan seperti SD,
SLTP, SMU, SMK, dan program-program studi di perguruan tinggi berkedudukan
sebagai perusahaan (firm).
Di
samping itu karena produk pendidikan berupa jasa, maka perlu diketahui pula
mengenai karakteristik dari industri jasa, dalam hal ini adalah jasa
pendidikan.
Pasar,
Permintaan, dan Penawaran Jasa Pendidikan.
Pasar pendidikan adalah keseluruhan
permintaan dan penawaran terhadap sejenis jasa pendidikan tertentu. Seperti
halnya pada bidang ekonomi, maka pasar di dalam pendidikan dapat dibedakan atas
pasar konkret dan pasar abstrak. Dilihat dari bentuknya, pasar pendidikan
mempunyai kesamaan dengan pasar persaingan monopoli. Berbicara tentang pasar
pendidikan, maka paling tidak ada dua unsur penting, yaitu permintaan
pendidikan dan penawaran pendidikan.
Tentang pasar pendidikan ada
beberapa definisi. Antara lain yang dikemukakan oleh Hector Corea, ia
mengemukakan bahwa permintaan pendidikan menggambarkan kebutuhan, dan
dimanifestasikan oleh keinginan untuk diberi pelajaran tertentu. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi permintaan pendidikan seperti budaya, politik, dan
ekonomi. Kemudian permintaan pendidikan perorangan secara agregat dipengaruhi oleh
faktor-faktor antara lain: pendapatan orang tua, pendidikan orang tua,
pekerjaan orang tua, biaya pendidikan, kebijaksanaan umum (Pemerintah),
kebijaksanaan lembaga, dan persepsi individu terhadap tiap-tiap jenis
pendidikan. Permintaan pendidikan juga tergantung kepada cara pandangnya, yaitu
apakah pendidikan itu dianggap sebagai konsumsi, sebagai investasi, atau
konsumsi dan investasi.
Penawaran pendidikan dapat dilihat
secara makro dan secara mikro. Secara makro, pengadaan pendidikan dapat
dilaksanakan berdasarkan pendekatan ketenagakerjaan. Sedang secara mikro, yaitu
pengadaan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, seperti sebuah SLTP,
sebuah SMU, dan sebagainya.Terlepas oleh siapa pendidikan itu diselenggarakan,
maka proses pengadaan pendidikan harus dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Tentang harga pendidikan. Untuk
menentukan harga dari jasa pendidikan tidak sederhana, seperti halnya pada
harga barang-barang. Karena banyak komponen yang harus dihitung, antara lain
yaitu uang pendaftaran, uang pangkal (BP3, dan sebagainya), uang tes sumatif,
uang laporan pendidikan, uang pendaftaran ulang, dan sebagainya.
Kemudian tentang elastisitas harga.
Elastisitas harga atau elastisitas permintaan pendidikan ialah perbandingan
antara perubahan relatif dari permintaan jasa pendidikan dengan perubahan
relatif dari harganya. Sesuai dengan bentuk pasarnya, yaitu persaingan
monopoli, maka sifat elastisitas permintaannya inelastis.
Pendidikan
sebagai Barang Publik dan Barang Swasta
Pendidikan dapat
merupakan barang publik dan dapat merupakan barang swasta. Barang publik
(public goods) adalah suatu jenis barang yang sangat dibutuhkan oleh
masyarakat, tetapi tak ada seorang pun yang bersedia untuk menghasilkannya. Ada
dua sifat pokok dari barang ini, yaitu nonrival consumption dan non-exclusion.
Berdasarkan definisi dan sifat-sifat dari barang publik tersebut, agar
pendidikan dapat digolongkan sebagai barang publik, maka harus memenuhi
kriteria sebagai berikut:
1. Pendidikan
harus merupakan barang/jasa konsumsi.
2. Pendidikan
dibutuhkan oleh semua orang.
3. Pihak
swasta tidak bersedia untuk menghasilkannya.
4. Pendidikan,
konsumsinya mempunyai sifat nonrival consumption dan non-exclusion.
Sesuai dengan kriteria tersebut,
maka pendidikan dasar atau pendidikan wajib belajar yang terdiri dari SD dan
SLTP dapat digolongkan sebagai barang publik. Ada beberapa teori yang mendasari
tentang barang publik. Teori-teori tersebut dikemukakan oleh Bowen, Eric
Lindahl, dan Samuelson. Ketiga teori tersebut pada prinsipnya membahas tentang
bagaimana pengadaan dan pembebanan biayanya.
Pendidikan juga dapat digolongkan
sebagai barang swasta. Barang swasta (private goods) adalah barang yang
penyediaannya dilakukan melalui mekanisme pasar. Termasuk ke dalam kategori ini
adalah pendidikan pada tingkat setelah pendidikan wajib belajar, yaitu SLTA
(SMU dan SMK), dan Perguruan Tinggi. Pada tingkat ini pengadaan pendidikan
bukan hanya didorong oleh motivasi-motivasi yang bersifat keagamaan, dan
kebangsaan, tetapi juga didorong oleh pertimbangan-pertimbangan bisnis.
Sehingga ada atau tidak adanya atau banyak sedikitnya produksi pendidikan
dipengaruhi oleh banyak sedikitnya permintaan dan pendapatan yang mungkin
diterima oleh penyelenggara/pengelola di masa yang akan datang.
Pendidikan
sebagai Konsumsi dan sebagai Investasi
Pendidikan dapat dipandang sebagai
konsumsi, sebagai investasi, dan sebagai konsumsi dan investasi secara
komplementer. Pendidikan sebagai konsumsi adalah pendidikan sebagai hak dasar
manusia. Atau merupakan salah satu hak demokrasi yang dimiliki oleh setiap
warga negara. Sehingga sampai tingkat tertentu pengadaan harus dilakukan oleh
pemerintah. Oleh karena itu maka di banyak negara pendidikan dasar (SD dan
SLTP) dijadikan sebagai pendidikan wajib belajar. Sebagai konsekuensinya
pendidikan pada tingkat ini pendidikan bukan hanya sebagai hak, tetapi juga
sebagai kewajiban bagi setiap warga negara pada tingkat umur tertentu (di
Indonesia antara 6 sampai 15 tahun).
Dilihat dari segi sifat kebutuhan,
pengadaannya pendidikan pada tingkat ini merupakan barang publik. Kemudian
dilihat dari motivasinya, maka pendidikan sebagai konsumsi ini dimotivasi oleh
keinginan untuk memuaskan kebutuhan akan pengembangan kepribadian, kebutuhan
sosial, kebutuhan akan pengetahuan dan pemahaman. Selanjutnya mengenai
orientasi waktunya adalah sekarang. Permintaan pendidikan ini dipengaruhi oleh
besar kecilnya pendapatan disposibel.
Pendidikan
sebagai investasi bertujuan untuk memperoleh pendapatan neto atau rate of
return yang lebih besar di masa yang akan datang. Biaya pendidikan dalam jenis
pendidikan ini dipandang sebagai jumlah uang yang dibelikan untuk memperoleh
atau ditanamkan dalam sejumlah modal manusia (human capital) yang dapat
memperbesar kemampuan ekonomi di masa yang akan datang. Pendidikan sebagai
investasi didasarkan atas anggapan bahwa manusia merupakan suatu bentuk kapital
(modal) sebagaimana bentuk-bentuk kapital lainnya yang sangat menentukan
terhadap pertumbuhan produktivitas suatu bangsa. Melalui investasi dirinya
seseorang dapat memperluas alternatif untuk kegiatan-kegiatan lainnya sehingga
dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya di masa yang akan datang.
Pendidikan
sebagai konsumsi dan investasi secara komplementer.
Pendidikan setelah pendidikan wajib
belajar mempunyai tujuan bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman,
pengembangan kepribadian, dan pemuasan terhadap kebutuhan sosial (status dan
gengsi) juga untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, sehingga dapat
memperoleh pendapatan neto seumur hidup yang lebih tinggi di masa yang akan
datang.
Sesuai dengan uraian tersebut di
atas, maka jumlah pendidikan yang diperoleh oleh seseorang akan mempunyai
pengaruh terhadap tinggi rendahnya pendapatan yang ia peroleh, walaupun tidak
menjamin sepenuhnya. Akan tetapi kecenderungan tersebut cukup besar.
D. Nilai Ekonomi
Pendidikan Tinggi
Paling
tidak ada empat isu yang tengah berkembang kaitannya dengan pendidikan tinggi,
yaitu:
1. Pendidikan Tinggi mempersiapkan
seseorang dengan kualifikasi tinggi untuk menjadi seseorang yang berkualitas
amat tinggi.
2. Pendidikan tinggi mempersiapkan
profesional dalam berbagai bidang keilmuan untuk kepentingan pembangunan
nasional bangsa itu.
3. Pendidikan tinggi adalah tonggak
Perkembangan Civilization manusia.
4. Unesco mempromosikan Pendidikan
Tinggi untuk semua.
Penyelenggaraan pendidikan tinggi
memang memerlukan biaya besar, yang tidak mungkin bila hanya mengandalkan
sumber dana pemerintah semata (baca: dana publik). Selama ini, yang menikmati
layanan pendidikan tinggi adalah kelompok masyarakat, yang dalam strata sosial
tergolong kelas menengah ke atas.
Ada argumen rasional dan alasan
logis yang mendukung langkah universitas menaikkan biaya pendidikan. Sebab,
sasaran utamanya adalah meningkatkan kontribusi (dalam bentuk uang pangkal dan
SPP) bagi mahasiswa yang berasal dari lapisan kelas menengah tersebut.
Jika masyarakat kelas menengah yang
paling banyak mendapat akses pendidikan tinggi, maka penggunaan dana publik
(yang bersumber dari pajak) untuk membiayai universitas justru bertentangan
dengan prinsip keadilan.
Dengan kata lain, investasi dana
publik untuk pengembangan perguruan tinggi harus menghitung besaran nilai
ekonomi dan tingkat kemanfaatan bagi kepentingan masyarakat luas. Jadi, ada
rasionalitas ekonomi di balik kenaikan biaya pendidikan itu, yang secara teknis
dilakukan dengan membuat analisis perbandingan antara public economic benefits
dan private economic benefits.
Dalam teori ekonomi, terminologi
public economic benefits diartikan sebagai keuntungan ekonomis yang memberi
manfaat bagi masyarakat luas setelah seseorang berhasil menamatkan jenjang
pendidikan tinggi. James Merisotis dalam Who Benefits from Higher Education?
(1988) membuat lima kategori public economic benefits.
Pertama, peningkatan
pendapatan pajak. Kedua, peningkatan produktivitas. Tesis umum yang berlaku
adalah: semakin tinggi level pendidikan yang dicapai, kian luas pula
pengetahuan dan keterampilan teknis yang didapat. Ketiga, peningkatan konsumsi.
Berbagai studi menunjukkan, peningkatan konsumsi itu paralel dengan level
pendidikan. Keempat, peningkatan adaptabilitas tenaga kerja. Persaingan ekonomi
yang sangat ketat pada level global menuntut tenaga kerja bisa cepat
beradaptasi dengan perubahan. Kelima, penurunan ketergantungan pada bantuan
finansial pemerintah. Para lulusan perguruan tinggi cenderung kurang memerlukan
program bantuan sosial yang diberikan pemerintah. Sebab, secara ekonomis mereka
sudah berkecukupan dan mampu memenuhi sendiri berbagai kebutuhan dasar
tersebut.
Sementara terminologi private
economic benefits diartikan sebagai keuntungan ekonomis yang memberi manfaat
hanya bagi individu bersangkutan setelah ia berhasil menamatkan jenjang
pendidikan tinggi. Ada lima kategori private economic benefits.
Pertama, peningkatan gaji dan
penghasilan. Para lulusan perguruan tinggi yang berbekal pengetahuan dan
keterampilan dipastikan bisa memperoleh gaji dan panghasilan tinggi pula
menurut keahlian yang dimiliki. Kedua, pilihan pekerjaan yang luas. Ketiga,
tabungan (savings) relatif lebih besar. Dengan pekerjaan yang baik serta gaji
dan penghasilan besar, sangat logis bila para sarjana mempunyai tabungan yang
besar pula. Keempat, jenis pekerjaan dan tempat bekerja yang baik. Bagi lulusan
perguruan tinggi relatif mudah mendapatkan pekerjaan yang baik dan tempat
bekerja yang comfortable. Kelima, mobilitas individual. Para lulusan perguruan
tinggi lebih mampu bertukar jenis pekerjaan. Dengan bekal keahlian yang memadai
dan kompetensi yang mumpuni, para sarjana lebih mudah memperoleh pekerjaan baru
atau berpindah profesi bahkan untuk bidang keahlian yang berlainan sekalipun.
Itulah parameter kualitatif yang
lazim digunakan untuk mengukur keuntungan ekonomi pendidikan tinggi. Parameter
kualitatif itu bisa dikonversi secara kuantitatif dengan menggunakan metode
cost-benefit analysis. Metode analisis ini melihat perbedaan antara private and
social rates of return lulusan perguruan tinggi, sehingga bisa diketahui berapa
besar tingkat kemanfaatan ekonomi pendidikan tinggi baik bagi individu maupun
masyarakat.
Metode analisis ini bisa dijadikan
dasar bagi pemerintah untuk berinvestasi di level pendidikan tinggi. Studi
mutakhir yang dilakukan oleh dua ahli ekonomi konsultan Bank Dunia,
Psacharopoulos dan Patrinos, Returns to Investment in Education (2002), membuat
perbandingan antara private and social rates of return pada jenjang pendidikan
tinggi di lima kawasan. Hasil studi itu dengan jelas menunjukkan perbedaan yang
sangat signifikan antara private rate of return dan social rate of return di
seluruh kawasan.
Perbandingan masing-masing kawasan
adalah: (i) Asia: 18,2 persen dan 11,0 persen, (ii) Eropa/Timur Tengah/Afrika
Utara: 18,8 persen dan 9,9 persen, (iii) Amerika Latin/Karibia: 19,5 persen dan
12,3 persen, (iv) Negara-negara OECD: 11,6 persen dan 8,5 persen, dan (v)
Sub-Sahara Afrika: 27,8 persen dan 10,3 persen. Adapun rata-rata Dunia sebesar
19,0 persen dan 10,8 persen.
Data di atas secara
terang-benderang menggambarkan betapa nilai kemanfaatan ekonomi pendidikan
tinggi yang diperoleh orang per orang (individual) itu lebih besar dibandingkan
masyarakat luas (publik). Bila pemerintah berinvestasi di jenjang pendidikan
tinggi, maka yang akan memperoleh manfaat ekonomi hanya kelompok masyarakat
tertentu saja.
Temuan studi ini bisa ditafsirkan,
bila dana publik dalam jumlah besar digunakan untuk membiayai pendidikan
tinggi, maka yang paling beruntung justru lapisan masyarakat kelas menengah ke
atas. Bagi penganut mazhab Marxian, ini jelas akan melenggangkan struktur
kemampuan sosial dan menghambat mobilitas vertikal masyarakat kelas bawah.
Dalam perspektif demikian,
sejatinya arah kebijakan BHMN bisa dikatakan on the right track. Bagi orang
kaya harus membayar lebih mahal untuk bisa kuliah di universitas terbaik itu.
Namun, pemerintah dan universitas harus membuat kebijakan affirmative action
guna melindungi dan memberi kesempatan bagi orang miskin yang berprestasi,
untuk bisa kuliah di perguruan tinggi.
mantap ditunggu artikel selanjutnya
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapusthanks atas artikelnya
BalasHapusluar biasa
BalasHapusNice artikel
BalasHapusBaguus
BalasHapusmanarik tampilaannyaaa
BalasHapusmembantu saya dalam mengerjakan tugas
BalasHapusBagus
BalasHapusNice artikel
BalasHapusNice artikel
BalasHapusNice artikel
BalasHapusNice artikel
BalasHapusNice
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat membantu artikelnya mba. Terima kasih
BalasHapusSangat membantu artikelnya
BalasHapusSangat membantu
BalasHapusSangat menarik
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusArtikelnya sangat bagus
BalasHapusArtikelnya bagus
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusGood idea👍
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusNice artikel
BalasHapusArtikelnya sangat membantu
BalasHapusArtikelnya sangat membantu
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSngat membntu dan bermanfaat
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusSangat bagus
BalasHapustampilan nya sangat menarik
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapus